Senin, 26 Maret 2012

progam sentra pemberdayan ternak untuk masyarakat

Dengan breeding, menuju swasembada daging Nasional 


beberapa menit pasca kelahiran

2 hari pasca kelahiran

Central domba dan kambing janKar Agro NUsantara selain konsen untuk jual beli indukan dan daging juga konsentrasi dalam breeding, terutama untuk ekor gemuk, dombos, marino dan domba batur, selain untuk mempertahankan populasi juga untuk menunjang keberlangsungan progam-progam bareng masyarakat sekitar kandang central domba dan kambing janKar agro Nusantara. Progam sentra pemberdayaan ternak untuk masyarakat ini bekerjasama dengan masyarakat sekitar,hal ini maksudkan selain sebagai pemberdayaan ekonomi petani dan peternak lokal juga sebagai langkah awal menuju swasembada daging nasional, terutama untuk memenuhi kebutuhan daging nasional. gerakan ternak untuk masyarakat ini mempunyai target satu desa 1000 ekor domba atau kambing.

anak ekor gemuk usia 35 hari, tinggi 50 cm
indukan dan anakan domba cemani


Penangan penyakit domba.


PENYAKIT KAMBING / DOMBA

1 .      CACING  ( gelang ,hati, kremi )

  Ciri ciri : mata redup, bulu kusam & njegrak(berdiri), sering merunduk

A.      GELANG
-          Sukun muda ( getahnya )
-          Temu ireng
-          Obat pabrikan

B.      HATI  ( ciri spt diatas + kotoran + dimatanya ada warna kuning )
-          Daun kluwih 8 lbr
-          Temu ireng
-          Obat pabrikan

C.      KREMI (ciri seperti diatas +fesesnya hitam pekat )  Salah satu pembunuh paling banyak yang di temui di kambing/domba.
Mencretnya bau sekali ( lebih 3 hari usus bisa putus ) dan
( kalau sudah akut kejang-kejang )
-obat pabrikan + suntikan penicillin ( im ) + vitamin 3x berturut turut
( bila sudah mencret )

Obat pabrikan tidak boleh sekaligus diberikan.
Pencegahan, berikan obat cacing sebelum masuk kandang


2 .            SAKIT MATA  ( stress & daging bisa keracunan karna enzim )
           Debu, ketusuk
-          Jeruk nipis
-          Air hangat
-          Salep/tetes mata
-          Tetracilin

3 .                       DIARE
a.      Tidak berbau ( bisa karena penyesuaian pakan )
-          Daun jambu biji
-          Kunir + gula merah
-          Obat diare lainnya
b.      Berbau ( lihat cacing/tidak )
Berbau bisa salmonella ( Salah satu pembunuh paling banyak yang di temui di kambing/domba. ) tidak boleh lebih 4 hari
-          Anti biotic spectrum luas ( im ) 3x berturut turut
-          bisa sulfa powder  (40 % ) + penicillin powder ( 60 % ) + vit
-          extrak rimpang  temu lawak + kunir

4 .                       SCABIES ( KUTU )
           sering memakan bulunya sendiri.
           Bisa juga mulutnya luka pada mulut
-          Daun kluwih dibakar
-          Daun gadung atau mindi
-          Sabun colek
Kalau akut ( bentol bentol )
-          Suntikan obat kutu
-          Obat kutu diembunkan
-          Kunir + minyak

5 .                   KORENGAN = SCABIES
        Panas dalam (memakan bulunya )
-          Kunir + gula jawa

6 .                 TIMFANI ( KEMBUNG )
7 .                  INDEGESTI ( BEBELEN )
        Pembunuh terbesar pada ternak.
        Penyebabnya sama serat kasar yang tidak bisa di cerna (grajen, nasi, merang )/embun
        (rumensia dicerna diputar, kalau tidak tercerna menjadi bola/gas yang memyebabkan kembung )
·         Cara membedakan tifani & kembung : napas didada & perut
-          Tempe bosok + gula merah diblender
-          Kopi kental hangat2 kuku
-          Air degan  hijau satu butir
-          Minyak goreng
-          Air berkarbonasi + 300 ml

* Ajak teman buka mulut, dilangkahi menghadap kebelakang diurut dari bawah keatas nanti      akan keluar gas mektan
* Selang diolesi minyak dimasukan ke anus ( 1 jengkal aja terus di urut )
8 .            FOOT ROOT / KAKI BUSUK ( pembusukan pada celah kaki )
                 Kuku ( muda  ) tidak rata, pecah karena menahan berat badan ( biasanya 40 kg keatas)
                  ( klo menangis/makan kandang berate defisiasi glucose/mineral )
-          Larutan formalin 2%  utk rendam 5-10 menit pada batas kaki yg sakit trus dikasih obat merah.

·         Kalau ada belatung pada bagian lain ( bokong dll )
-          Bersihkan sama alcohol/spritus/bensin. Taburi kapur barus terus diplester.bisa juga pakai kain noni yang dikeringkan.

9 .             BLUE VIRUS
     Congor kering, sering batuk, bersin keluar lendirnya
-          Delamidon + B K-10

1 0.         MASTITIS ( INFEKSI PADA KAMBING )
      Anaknya meminum dengan menyundul
      Kesalahan pada memerah susu ( pakai jempol bisa akibat iritasi )
        -masukan penicillin powder dan aqua pada suntikan sapi yang kaca terus masukam kekambing,/domba  urut sampai  nanah habis ( bau menyengat ) sampai darah segar. Masukan obat 2-4cc diulangi 3x dalam 3 hari





 Mohon sharing pengalamannya.

Senin, 19 Maret 2012

Kandang Domba



Kandang Domba

  kandang domba dibuat dari bahan kayu yang kuat dan tahan terhadap air, kayu yang kami gunakan adalah kayu joar, akasia, bengkirai, glugu (atap), dan bambu.


 
Desain penampung kotoran dan kencing domba memudahkan dalam proses pembuatan bahan pupuk kompos

 Desain penampung kotoran memudahkan perawatan, efisensi dan kebersihan kandang

saluran air kencing yang tersentralisasi di penampungan bahan pupuk kompos

DOMBA SUFFOLK

Domba Suffolk secara fisik jika dibandingkan dengan Domba lain sangat mudah dibedakan dari wajah hitam dan kaki hitam. jantan bisa lebih dari 100 kg, keberadaan pertama kali di Indonesia tahun 1975 lewat Australia. Domba suffolk biasanya digunakan untuk persilangan dengan Domba Garut untuk memperoleh hasil maksimal dari Berat daging dan tanduk.
Secara kasar jika disandingkan dengan merino domba suffolk ini di Indonesia beda tipis karena sama-sama sudah mengalami persilangan dengan Domba lokal, cuma bisa dibedakan dari dari warna muka, warna kaki dan bulu yang lebih halus daripada merino. Peredarannya di Jawa / Indonesia domba suffolk ini cenderung bermuka hitam belang.
Secara keseluruhan kehadiran Domba Merino, Suffolk sangat menguntungkan peternak kita, dari persilangan Domba-domba ini bisa didapatkan jenis domba yang berbobot berat.




Domba ekor gemuk


Domba Ekor Gemuk dikenal juga dengan nama Domba Kibas (di Jawa), juga dikenal sebagai domba Donggala (di Sulawesi Selatan). Domba ini berasal dari Asia Barat atau India yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu domba ekor gemuk dari Persia.

Pada awalnya domba Ekor Gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (terutama di Lombok). Namun saat ini sudah berkembang di seluruh Indonesia.
Domba ini beradaptasi dan tumbuh lebih baik di daerah beriklim kering.
    Ciri-ciri domba ekor gemuk :
  • Bentuk badannya sedikit lebih besar daripada domba lokal lainnya.
  • Berat domba jantan mencapai 40-60 kg kalau jenis super jantan bisa diatas 100 kg, sedangkan domba betina 25-50 kg.
  • Tinggi badan pada jantan dewasa antara 52 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 47 – 60 cm.
  • Warna bulu wolnya putih dan kasar.
  • Ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil karena tidak terjadi penimbunan lemak. Cadangan lemak di bagian ekor berfungsi sebagai sumber energi pada musim paceklik.
  • Dada terlihat serasi dan kuat seperti bentuk perahu, ke empat kakinya kalau jalan agak lamban karena menanggung berat badan dan ekornya yang gemuk.
  • Umumnya domba jantan tidak bertanduk dan hanya sedikit yang mempunyai tanduk kecil, sedangkan yang betina tidak bertanduk.
  • Keunggulan Domba Domba ekor gemuk ini adalah tahan terhadap panas dan kering. 
Selain jenis ekor gemuk dengan ciri-ciri diatas ada jenis ekor gemuk yang lain yang dikenal dengan domer/cokol, banyak ditemukan di peternak Brebes Jawa tengah, yang membedakan adalah ekor domba domer kecenderungan lebih tipis dan mempunyai lengkungan dipunggungnya.


Peternakan kami membudidayakan dan menyediakan bibit dan indukan ekor gemuk Domer dan ekor gemuk Jawa Timur 
jika berminat silahkan hubungi kami, atau silahkan berkunjung ke kandang kami, trims,,...

Domba Batur

Domba Batur (atau Domas) sebenarnya merupakan domba hasil persilangan dari domba lokal yaitu domba Ekor Tipis (Gembel), domba Suffolk dan domba Texel. Pada 1984, kelompok tani ternak di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berusaha menyilangkan domba bantuan presiden dengan domba lokal. Persilangan domba asal Tapos dan domba lokal menghasilkan keturunan yang oleh warga dinamai domba Batur atau Domas.

Pada awalnya berkembang di daerah Banjarnegara dan menjadi ikon Banjarnegara, dan sejak tahun 2009 mulai berkembang di beberapa daerah Jawa dan Sumatera. dan salah satunya di Kandang kami Desa Wonokerto Bancak Kab. Semarang, perkembangan jenis domba batur meskipun hasil persilangan
Ekor Tipis (Gembel), domba Suffolk dan domba Texel dari perkembangan sekarang domba batur secara ciri fisik lebih dekat ke Domba merino 
 

Domba batur jantan maupun betina adalah tipe domba potong yang merupakan penghasil daging yang baik.

    Ciri-ciri Domba Batur :
  • Tubuhnya besar dan panjang.
  • Kaki cenderung pendek dan kuat.
  • Domba jantan maupun betinanya tidak memiliki tanduk.
  • Kulitnya relatif lebih tipis dibandingkan domba garut, kibas, atau gembel, namun bulunya tebal.
  • Warna bulu dominan putih dan menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian muka domba.
  • Keunggulan utama domba Batur ini adalah berat badannya. Untuk domba jantan dewasa berkisar antara 90-140 kg dan domba betina 60-80 kg, serta tinggi badan domba jantan dapat mencapai 75 cm dan tinggi domba betina 60 cm. 
Domba Batur ini memang istimewa montok/gemuk, pada umur dua tahun domba jantan umumnya sudah bisa mencapai bobot 100 kg dan betina 80 kg. Bahkan, domba jantan yang bagus dapat mencapai bobot 140 kg. Domba dengan bobot seperti ini biasanya dijadikan pejantan.

Proporsi dagingnya (bukan karkas yang masih bertulang) juga tinggi. Dagingnya lebih empuk dan lemaknya lebih tinggi. Untuk sate lebih bagus.

Domba Batur mulai dapat dikawinkan pada umur 8 bulan saat si betina mencapai bobot 50—60 kg. Satu ekor pejantan mampu mengawini 10 ekor betina. Betina bunting selama lima bulan dan rata-rata jumlah anaknya 1,5 ekor per kelahiran. 



just call us, you can order it... hehehe

Domba Texel / Dombos


Domba texel atau dombos
Domba Texel atau juga dikenal dengan nama Dombos yang artinya Domba Texel Wonosobo. Pada bulan Desember 2011, kami Jankar agro nusantara mendatangkan 100 domba Texel yang didatangkan dari daerah Dieng Wonosobo, dan ternyata dapat beradaptasi dan berkembang dengan baik diengan pertumuhan rata-rata satu bulan 2 kg.
Pada tahun 1954/1955 Pemerintah mendatangkan 500 ekor Domba Texel dari Belanda dan dialokasikan ke beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah (Baturaden Banyumas dan Tawangmangu Solo) dan Jawa Timur, tetapi daerah tersebut tidak mampu mengembangkannya. Akhirnya tahun 1957, dipindahkan ke Daerah Wonosobo. Ternyata penduduk Wonosobo mampu mengembangkan Domba Texel tersebut, akhir tahun 2006 populasi mencapai 8.753 ekor.
Domba Texel mempunyai ciri khas yang mudah dibedakan dari domba jenis lain yaitu : Mempunyai bulu wol yang keriting halus berbentuk spiral berwarna putih yang menyelimuti bagian tubuhnya kecuali perut bagian bawah, keempat kaki dan kepala. Postur tubuh tinggi besar dan panjang dengan leher panjang dan ekor kecil.
Domba Texel tergolong ternak unggulan yang berpotensi sebagai penghasil daging. Bobot badan dewasa jantan dapat mencapai 100 kg dan yang betina 80 kg dengan karkas sekitar 55 %. Dalam penggemukkan secara intensif dapat menghasilkan pertambahan berat badan 265 – 285 gram/hari. Masyarakat Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah telah banyak merintis usaha penggemukan intensif terhadap Domba Persilangan Texel dengan Domba Lokal, yang menghasilkan keuntungan memadai. Di samping itu Domba Texel dapat menghasilkan bulu wool berkualitas sebanyak 1000 gram/ekor/tahun, yang dapat diolah sebagai komuditas yang mempunyai nilai tambah. Di pedesaan Wonosobo yang potensial Domba texel telah dirintis industri rumah tangga yang mengolah bulu wool Domba Texel.

Domba Texel tergolong ternak yang cepat berkembang biak, dapat beranak pertama kali pada umur 15 bulan dan selanjutnya dapat melahirkan setiap delapan bulan. Anak pertama cenderung tunggal dan anak berikutnya kadang-kadang kembar dua. Domba Texel mempunyai karakter genetik yang cenderung dominan. Di Kabupaten Wonosobo, Domba Texel telah banyak memberi kontribusi genetik terhadap domba-domba lokal melalui proses kawin silang, menghasilkan domba domba persilangan yang potensial sebagai penghasil daging.
Kendala pengembangan Domba Texel justru karena tingginya permintaan dari luar daerah yang disinyalir untuk di ekspor ke Malaysia. Hal ini sebenarnya meningkatkan pamor dan nilai harga Domba Texel itu sendiri, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak dan pedangan Domba Texel. Namun di sisi lain, bila pengeluaran ke luar daerah tak dikendalikan, bisa mengancam terjadinya pengurasan ternak. Kendala lain, perkembang biakan Domba Dexel masih tergantung pada kawin alam, berhubung belum terdapatnya Produsen Frozen semen Domba Texel. 
terilhami dari perkembangan Domba Texel di Wonosobo, kami Central Kambing/Domba Nusantara juga mengembang biakkan (breeding) dan Penggemukan domba Texel di Desa WOnokerto Bancak Kab. Semarang yang mempunyai iklim yang tidak jauh berbeda dengan Wonosobo. Dalam hal penjualannya kami melindungi bakalan Texel berkualitas dan tidak menjualnya demi kelangsungan spesies Texel di Jawa Tengah.


kami melayani penjualan bakalan dombos / texel just call us...hehe trims

Jumat, 16 Maret 2012

Pakan dan Komboran untuk penggemukan


Proses pembuatan komboran.
Komposisi
  •  Ampas Tahu
  • Katul/ Dedak
  • Mineral
  • Air
Pemberian komboran pada malam hari sebelum jam 22.00.
Ini dimaksudkan untuk memaksimalkan proses penggemukan.

Proses pencampuran pakan frementasi.
Bahan-bahan yang telah dicampur harus mengandung minimal :
  • Karbohidrat ( Ampas tela/ singkong kering, tepung jagung, katul.)
  • Protein ( Ampas tahu, bungkil kopra/kacang dll)
  • Serat ( jerami, rumput, rendeng, rumput gajah, pohon jagung, gedebog dll)
  • Mineral ( air rendaman kapur, tepung tulang, cangkang telur, garam dll)
  • Air
  • SOC (suplemen organik cair)
  • Tetes Tebu
Setelah bahan tercampur rata, bahan di letakkan di drum plastik atau ember dari plastik untuk menyempurnakan proses frementasi, pastikan drum atau ember tertutup rapat hingga tidak ada rongga udara didalamnya untuk mencegah patogen ( racun) dalam proses frementasi.
Proses frementasi bahan basah hingga bisa diberikan pada kambing/domba antara 2-4 jam, jika ingin maksimal proses frementasi ini di biarkan hingga 24 jam.

Kami bisa memberikan fasilitas pelatihan dan praktek di lapangan.